Panti Baca Ceria Menggelar Lokakarya Penulisan Bersama Juru Kunci dan Pegiat Tradisi Lisan

Pembukaan Kegiatan Lokakarya. Dok panitia.


Panti Baca Ceria kembali menunjukkan komitmennya dalam merawat warisan budaya melalui kegiatan Lokakarya Penulisan: Merawat Tradisi Lisan Jadi Tulisan,  yang merupakan bagian dari Program Menjaras Memori Kolektif Jilid 2. Kegiatan ini diselenggarakan pada Minggu, 05 April 2026, bertempat di Gedung Sumedang Creative Center, mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIB.


Sebelum lokakarya berlangsung, Panti Baca Ceria terlebih dahulu menggelar kegiatan bertajuk Gelar Karya: Pentingnya Mendokumentasikan Tradisi Lisan Menjadi Tulisan sebagai upaya awal membangun kesadaran akan pentingnya pelestarian tradisi lisan dalam bentuk tulisan.


Lokakarya ini diikuti oleh puluhan Juru Kunci dan pegiat tradisi lisan di Sumedang, serta didukung oleh 5 penulis pendamping dan 5 seniman visual yang terlibat dalam proses kreatif peserta.


Kegiatan dibuka secara khidmat melalui rajah Ki Kebo Kenongo sebagai bentuk doa dan penghormatan kepada para leluhur serta seluruh pihak yang hadir. Nuansa sakral ini menjadi fondasi penting bahwa kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada keterampilan, tetapi juga pada penghargaan terhadap nilai-nilai budaya.


Selanjutnya, Ipul Sae selaku pendiri Panti Baca Ceria memaparkan tentang Program Menjaras Memori Kolektif, yang bertujuan untuk mendokumentasikan dan merawat ingatan kolektif masyarakat melalui tulisan, sehingga dapat diwariskan kepada generasi mendatang.


Pada sesi pertama, peserta mengikuti materi teori dan praktik bersama Windu Mandela, seorang jurnalis dan penulis, yang membahas teknik menggali cerita, menyusun alur, serta menulis dengan gaya sederhana namun tetap kuat dan bermakna.


Memasuki sesi kedua di siang hari, Dadan Andana sebagai penulis dan sastrawan memberikan pemaparan mengenai cara mengubah tradisi lisan menjadi tulisan, menjaga rasa (emosi dan nilai), serta membangun struktur narasi yang utuh dan efektif.


Setelah sesi materi, peserta dibagi ke dalam lima kelompok untuk melakukan praktik langsung. Setiap kelompok didampingi oleh penulis pendamping dan seniman visual, sehingga proses pengolahan cerita tidak hanya berbasis teks, tetapi juga diperkaya dengan pendekatan visual.


Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Salah satu peserta Deden Indrawan menyampaikan, “Sekarang memang bagian anak muda yang meneruskan. Dengan adanya kegiatan seperti ini, tradisi lisan jadi tidak akan hilang tertelan zaman.”


Melalui kegiatan ini, Panti Baca Ceria berharap dapat melahirkan karya-karya tulis berbasis tradisi lisan yang tidak hanya menjadi dokumentasi budaya, tetapi juga menjadi jembatan antar generasi dalam menjaga identitas dan kearifan lokal.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama