
Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir Bersama Kadis Pertanian Lakukan Panen Padi
Program yang digagas bersama DPC HKTI Kabupaten Sumedang dan Balitbang Ketahanan Pangan Mandiri ini tak sekadar uji coba biasa. Lebih dari itu, kawasan persawahan tersebut disiapkan menjadi semacam “laboratorium terbuka” bagi masa depan pertanian di Sumedang.
“Kita tidak sedang membuat demplot biasa. Ini adalah model laboratorium pertanian yang bisa menjadi rujukan ke depan,” ujar Bupati Dony penuh optimisme.
Menurutnya, sektor pertanian saat ini masih dihadapkan pada persoalan klasik, mulai dari kesejahteraan petani yang belum optimal, tata kelola yang belum efisien, hingga persoalan hama yang kerap berulang. Karena itu, dibutuhkan pendekatan baru yang lebih terintegrasi dan berbasis perencanaan.
“Masalahnya bukan hanya di hasil, tapi di sistemnya. Kalau tata kelola belum optimal, maka petani akan terus berada dalam posisi yang tidak menguntungkan,” tegasnya.
Pada demplot tersebut, digunakan varietas unggul Inpari 32 yang didatangkan dari Balai Benih Sukamandi, Subang. Dengan masa tanam sekitar 110 hingga 120 hari di lahan seluas kurang lebih 170 bata, varietas ini diharapkan mampu mendongkrak produktivitas secara signifikan.
“Penggunaan benih unggul ini adalah bagian dari strategi. Kita ingin pertanian ini berbasis perhitungan, bukan sekadar kebiasaan,” katanya.
Berbeda dengan metode konvensional yang mengandalkan sistem pindah tanam, metode Tabela memungkinkan benih langsung ditanam di lahan. Selain mempercepat proses tanam, metode ini juga dinilai lebih efisien dalam penggunaan pupuk dan pestisida.
Namun, perubahan metode tentu tidak datang tanpa konsekuensi. Dari hasil analisis, biaya produksi sistem Tabela mencapai sekitar Rp18,8 juta per hektare, lebih tinggi dibanding metode konvensional yang berkisar Rp11,5 juta per hektare.
Meski demikian, potensi hasil yang ditawarkan juga jauh lebih besar.
“Kalau hanya melihat biaya, memang terlihat lebih mahal. Tapi kita harus melihat hasil akhirnya. Jika produksi bisa mencapai hingga 16 ton per hektare, bahkan dua kali lipat, maka ini sangat menjanjikan,” ungkapnya.
Bupati menekankan, pendekatan ini bukan sekadar mengejar hasil panen semata, tetapi juga menciptakan efisiensi waktu, peningkatan kualitas beras, dan pada akhirnya berdampak pada kesejahteraan petani.
“Tujuan akhirnya jelas, bagaimana petani kita bisa lebih sejahtera. Itu yang menjadi fokus utama,” ucapnya.
Ia pun menyadari bahwa tantangan terbesar bukan hanya pada teknis di lapangan, tetapi juga pada perubahan pola pikir petani yang selama ini terbiasa dengan metode konvensional.
“Mengubah kebiasaan itu tidak mudah. Tapi kalau kita ingin maju, kita harus berani bertransformasi. Ini kerja bersama,” pungkasnya.
Dengan hadirnya demplot Tabela ini, Sumedang tak hanya menanam padi, tetapi juga menanam harapan baru, bahwa pertanian modern yang produktif dan berkelanjutan bukan lagi sekadar wacana, melainkan sebuah keniscayaan.
Posting Komentar