
Peternak Mulai Melakukan Perawatan Secara Intensif Pasca Kematian Masal Ikan Terjadi
Kerugian peternak semakin besar karena ikan yang masih hidup terpaksa dijual dengan harga jauh di bawah pasaran. Kondisi ini membuat pendapatan mereka merosot tajam.
Salah seorang peternak KJA, Teten Buldani Hayat (52), mengatakan kematian ikan di keramba miliknya terjadi dalam dua gelombang, yakni pada 21-22 Oktober dan 28 Oktober 2026.
Menurut Teten, Saat di temui di kja miliknya, selasa siang 3/11/2026, kejadian tersebut diduga berkaitan dengan fenomena upwelling, yaitu naiknya massa air dari dasar waduk ke permukaan. Pergerakan air ini dapat menyebabkan perubahan suhu, menurunkan kadar oksigen, serta membawa material sisa dan pencemar yang mengendap di dasar waduk.
"Selama dua hari, ikan yang mati di tempat saya sekitar 5 ton. Didominasi ikan mas dan nila," kata Teten.
Dia menduga perubahan cuaca dari kemarau panjang menuju hujan dengan intensitas tinggi turut memicu kematian ikan secara massal.
Kondisi tersebut diperparah dengan menyusutnya volume air waduk yang berdampak pada penurunan kadar oksigen terlarut.
Teten menyebut kadar oksigen ideal di perairan setidaknya berada di angka 2,6. Namun, saat kejadian, kadar oksigen di lokasi kerambanya sempat turun hingga 0,7.
Akibatnya, ikan-ikan di dalam keramba tidak mampu bertahan dan mati secara massal.
Jika dihitung berdasarkan harga jual normal sekitar Rp23 ribu per kilogram, ikan yang mati tersebut memiliki nilai sekitar Rp115 juta.
Namun, kerugian peternak tidak hanya berasal dari ikan yang mati. Teten juga terpaksa menjual ikan yang masih hidup dengan harga murah untuk mengurangi kerugian.
Menurutnya, harga ikan yang semula bisa mencapai Rp23 ribu per kilogram turun menjadi Rp5 ribu hingga Rp7 ribu. Penurunan harga terjadi karena kondisi ikan mulai terdampak dan banyak peternak melakukan penjualan secara bersamaan.
"Kalau dijual dengan harga normal, nilainya bisa sekitar Rp120 juta. Kemarin justru hanya terjual Rp18 juta karena harganya jatuh," ungkapnya.
Sementara itu, ikan berukuran kecil yang tidak bisa dijual akhirnya dibagikan kepada masyarakat karena tidak ada pembeli.
Untuk mengantisipasi kejadian serupa, Teten mulai mengurangi jumlah benih ikan yang ditebar di keramba. Dia juga menggunakan mesin pompa air atau alkon untuk membantu memasok oksigen agar ikan yang masih dipelihara tetap bertahan.
Teten berharap kematian massal ikan kali ini menjadi kejadian terakhir sepanjang 2026. Pasalnya, fenomena serupa pada tahun sebelumnya menyebabkan kerugian besar bagi peternak KJA di Waduk Saguling.
Pada 2025, kerugian peternak akibat kematian massal ikan disebut mencapai Rp10 miliar. Dengan demikian, kerugian yang dialami Teten saat ini diperkirakan sekitar 10 persen dari total kerugian tahun lalu.
"Semoga ini kejadian terakhir tahun ini. Berkaca dari 2025, kerugiannya sampai Rp10 miliar. Mudah-mudahan yang sekarang tidak bertambah dan tidak terjadi lagi," harapnya.
Selain faktor cuaca dan kondisi perairan, Teten juga menyoroti persoalan pencemaran air di Waduk Saguling.
Menurutnya, limbah yang masuk dari wilayah hulu turut memperburuk kualitas air dan berpotensi meningkatkan risiko kematian ikan.
Dia berharap pengendalian pencemaran dari hulu dapat dilakukan secara serius agar kualitas air waduk tetap terjaga dan kejadian serupa tidak terus berulang.
"Pengendalian pencemaran dari hulu juga dinilai penting agar kejadian serupa tidak terus berulang dan merugikan peternak," tandasnya.
Posting Komentar