
Kondisi Kendaraan Milik Warga yang Terselimutu Debu Vulkanik Anak Krakatau
Permukaan mobil yang sehari sebelumnya masih bersih mendadak berubah kusam. Lapisan debu berwarna keabu-abuan menutupi bodi kendaraan, kaca, hingga bagian-bagian yang terbuka.
Warga menduga debu tersebut merupakan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang terbawa angin hingga wilayah Bandung Raya.
Dugaan itu bukan tanpa alasan. Warga menilai karakter abu yang menempel pada kendaraan berbeda dari debu biasa. Saat dibersihkan menggunakan kain maupun air, partikel tersebut tidak serta-merta hilang. Bahkan, ketika disentuh, teksturnya terasa lebih kasar dan seperti menempel kuat di permukaan.
Sensasi berbeda juga dirasakan olehYogi Dwi Arianto, ketika abu beterbangan dan mengenai mata. Rasa perih yang muncul dinilai lebih menyengat dibandingkan saat terkena debu jalanan biasa.
"Tadi malam mobil masih bersih, masih kinclong. Pagi-pagi sudah penuh debu, warnanya agak keabu-abuan juga. Ini beda sih dengan debu biasa," kata Yogi
Yogi mengatakan, membersihkan kendaraan yang dipenuhi partikel tersebut membutuhkan kehati-hatian. Teksturnya yang terasa kasar dikhawatirkan justru membuat permukaan bodi kendaraan tergores apabila langsung dilap.
Karena itu, untuk sementara waktu ia memilih menutup mobil menggunakan sarung kendaraan guna mengurangi paparan abu.
"Harus lebih ekstra bersihin debunya, soalnya kasar dan lengket. Mungkin ditutup dulu ya, bahaya kalau tiap hari ketempelan abu seperti ini," ujarnya.
Di balik lapisan tipis yang menempel pada kendaraan, abu vulkanik menyimpan potensi bahaya bagi kesehatan.
Pakar Kebencanaan Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr. Daryono, menjelaskan bahwa abu vulkanik memiliki karakter yang berbeda dibandingkan debu biasa. Bahayanya berasal dari bentuk fisik partikelnya yang tajam serta kandungan kimia yang dapat bersifat korosif.
"Abu vulkanik itu berbeda dari debu biasa yang lunak dan mudah disaring. Partikel abu vulkanik merupakan pecahan kaca silika dan batuan berukuran mikroskopis, kurang dari 2 milimeter," kata Daryono.
Partikel yang sangat halus tersebut dapat masuk lebih jauh ke dalam sistem pernapasan. Sebagian bahkan dapat melewati penyaringan alami di hidung dan mencapai saluran pernapasan bagian dalam hingga alveolus paru-paru.
Tak hanya persoalan ukuran, kandungan dalam abu vulkanik juga menjadi perhatian. Menurut Daryono, permukaan partikel abu dapat mengandung senyawa asam, seperti asam sulfat dan asam klorida, serta berbagai mineral dan logam.
"Secara kimiawi, partikel abu vulkanik diselimuti oleh senyawa asam seperti asam sulfat dan asam klorida, serta mengandung berbagai logam berat dan mineral. Ketika tersedot atau menempel pada jaringan tubuh yang basah, kandungan asam ini bereaksi secara agresif," ujarnya.
Paparan abu vulkanik dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari iritasi mata dan kulit hingga gangguan pada sistem pernapasan.
Dalam jangka pendek, paparan dapat memicu batuk kering, iritasi saluran pernapasan, sesak napas, hingga memperburuk kondisi penderita asma. Mata juga dapat terasa perih atau seperti terbakar ketika terkena partikel abu.
Sementara dalam jangka panjang, Daryono mengingatkan adanya risiko ketika partikel silika bebas terus-menerus terhirup dan mengendap di dalam paru-paru.
"Untuk jangka panjang, endapan silika bebas yang tertimbun di dalam paru-paru dapat menyebabkan pembentukan jaringan parut permanen (silikosis), yang berisiko menurunkan fungsi paru-paru secara drastis," katanya.
Karena itu, masyarakat yang berada di wilayah terdampak sebaran abu disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika konsentrasi abu di udara meningkat.
Jika aktivitas di luar rumah tidak dapat dihindari, perlindungan diri menjadi penting. Masyarakat dianjurkan menggunakan kacamata pelindung dan masker dengan kemampuan filtrasi tinggi, seperti N95 atau KN95.
"Penggunaan masker sangat dianjurkan karena masker kain biasa tidak mampu menahan partikel mikroskopis ini," pungkas Daryono.
Posting Komentar