Bukan Bata, Bukan Beton: Rumah Tanah di Cimahi yang Lahir dari Eksperimen

 

Misbah Berada di Teras Rumah Tanah Yang Dirinya Bangun 


KOTA CIMAHI- Jangan buru-buru menilai rumah dari dindingnya. Sebab di Jalan Pesantren, RT 02 RW 08, Kelurahan Cibabat, Kota Cimahi, ada sebuah rumah yang justru memilih meninggalkan kebiasaan umum. Ketika rumah-rumah lain berdiri dengan bata, semen dan beton, hunian milik Misbah (42) dan Fitria Ivana Pratita (42) justru dibangun dari sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: tanah.

Tanah, pasir dan jerami menjadi bahan utama rumah dua lantai seluas sekitar 95 meter persegi tersebut.

Sekilas, material itu terdengar sederhana. Namun, di tangan Misbah, tanah tidak sekadar menjadi tanah. Ia diolah, dicampur, disusun dan diperkuat hingga berubah menjadi dinding rumah yang kokoh.

Rumah itu merupakan penerapan konsep natural building, sebuah pendekatan pembangunan yang mengutamakan material alami dan lokal dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan.

Bagi Misbah, keputusan membangun rumah seperti itu bukan sekadar soal bentuk atau keunikan. Ada alasan yang lebih sederhana: ia ingin tinggal di rumah yang terasa sehat dan bersahabat dengan lingkungan.

"Sebenarnya saya ingin punya rumah dengan material lokal dan ramah lingkungan. Dampak lingkungan rendah, kemudian kita ingin punya bangunan yang lebih sehat karena tanah bisa menyerap kelembapan, meredam suara, dan menjaga suhu ruangan," ujar Misbah.

Dan ternyata, dinding tanah itu bukan hanya soal tampilan.

Menurut Misbah, rumah tersebut memiliki kemampuan menjaga temperatur di dalam ruangan. Ketika udara di luar terasa panas, bagian dalam rumah justru terasa lebih sejuk. Begitu pula ketika suhu di luar menurun.

"Antara suhu luar dan di dalam rumah bisa beda 4-5 derajat. Misalnya di luar 30 derajat Celsius, di dalam rumah bisa 25 sampai 23 derajat. Sebaliknya saat dingin, di dalam justru lebih hangat," katanya.

Rumah tersebut tidak lahir dalam semalam. Jauh sebelum rumah itu berdiri, Misbah sudah tertarik dengan material alami sejak 2018. Ia memulainya dari eksperimen kecil, membuat bangunan sederhana dan mencoba berbagai teknik menggunakan bahan-bahan yang tersedia di alam.

Eksperimen demi eksperimen justru membuat rasa penasarannya semakin besar.

Ia kemudian mempelajari lebih jauh teknik natural building. Bahkan, untuk memperdalam pengetahuannya, Misbah sempat belajar ke Austria.

Pengalaman tersebut kemudian dibawa pulang dan diterapkan di rumahnya sendiri. Pembangunan dimulai pada 2023 dan rampung sekitar 2024. Waktu pengerjaannya kurang lebih satu tahun.

Namun, ada satu hal yang membuat proses pembangunan rumah itu berbeda dari proyek konstruksi pada umumnya.

Rumah tersebut dibangun bersama-sama. Tukang, relawan dan teman-teman Misbah datang silih berganti. Mereka ikut mengerjakan bagian-bagian rumah sekaligus belajar mengenai teknik konstruksi berbahan alami.

"Proses bangun rumah ini sekitar satu tahun, melibatkan tukang, voluntir, dan teman-teman. Mereka datang dan pergi sehingga memantik pembangunan rumah gotong royong," tuturnya.

Dengan begitu, rumah tersebut tidak hanya dibangun dari tanah, pasir dan jerami. Ada pula tenaga, waktu, pengetahuan dan semangat gotong royong yang ikut melekat di setiap bagian bangunannya.


Ada cerita menarik lain di balik material rumah tersebut. Tanah yang digunakan tidak harus didatangkan dari tempat jauh. Sekitar 10 meter kubik tanah justru berasal dari halaman belakang rumah.

Tanah itu merupakan hasil galian ketika Misbah membuat kolam ikan.

"Kalau material inti cukup murah. Saya habiskan 10 kubik tanah yang dipakai dari hasil gali lubang untuk kolam ikan di belakang rumah," katanya.

Tanah tersebut kemudian dicampur dengan pasir dan jerami sebelum digunakan sebagai material dinding.

Untuk membuatnya kokoh, Misbah menggunakan batang dan anyaman bambu sebagai struktur penguat. Teknik tersebut dikenal sebagai wattle and daub, yakni konstruksi yang memadukan rangka atau anyaman dengan material tanah sebagai pengisi.

"Ini rumah dibangun dengan bahan material tanah, pasir, dan jerami yang dicampur. Kemudian dinding memakai teknik wattle and daub atau dinding bertulang menggunakan bambu dan anyaman. Fungsinya agar material tanah tetap berdiri tegak," jelasnya.


Meski sebagian materialnya berasal dari lingkungan sekitar, bukan berarti rumah ini dibangun tanpa biaya besar. Misbah memperkirakan total dana yang dikeluarkan mencapai sekitar Rp300 juta.

Rumah tersebut memiliki dua lantai, tiga kamar tidur, ruang tamu, ruang belajar dan kamar mandi.

Menariknya, tanah bukan bagian yang paling menguras kantong.

"Yang paling mahal biaya untuk bikin pondasi rumah, kemudian finishing seperti kusen dan lainnya," ujarnya.

Menurut Misbah, penggunaan material lokal memang bisa menekan biaya pembangunan. Syaratnya, material yang dibutuhkan tersedia di sekitar lokasi.

Sebaliknya, biaya bisa kembali membengkak apabila pemilik rumah memilih material dengan spesifikasi premium, misalnya jenis kayu tertentu untuk bagian bangunan.

Bagi Misbah, persoalan utama bukan semata-mata mencari rumah murah. Lebih dari itu, ia ingin membuktikan bahwa membangun rumah tidak harus selalu bergantung pada material yang diproduksi dan didatangkan dari tempat yang jauh.


Rumah itu kini menjadi tempat tinggal Misbah bersama istrinya dan dua anak mereka.

Namun, kehidupan di dalam rumah tersebut tidak berdiri sendiri.

Di sekelilingnya, Misbah menjalankan aktivitas berkebun dengan konsep permakultur. Rumah dan kebun sengaja dibuat saling berhubungan.

"Saya memang ingin rumah seperti ini karena bisa bersanding dengan kegiatan berkebun permakultur saya di sini," katanya.

Bagi Misbah, rumah bukan sekadar bangunan untuk berteduh. Rumah juga bisa menjadi bagian dari ekosistem kecil tempat manusia hidup berdampingan dengan alam.

Penggunaan material dari sekitar rumah pun membuat kebutuhan transportasi material dapat ditekan. Dengan kata lain, semakin dekat bahan bangunan diperoleh, semakin sedikit pula perjalanan yang diperlukan untuk membawanya ke lokasi pembangunan.

Pada akhirnya, rumah di Jalan Pesantren itu menawarkan cerita yang berbeda tentang sebuah hunian.

Dindingnya berasal dari tanah. Penguatnya bambu dan anyaman. Sebagian materialnya bahkan diambil dari tanah yang sebelumnya digali untuk membuat kolam ikan.

Tetapi di balik kesederhanaan itu, ada eksperimen panjang, perjalanan belajar hingga ke Austria, proses gotong royong, serta gagasan tentang rumah yang lebih dekat dengan alam.

Misbah menyebut bangunan tersebut relatif aman karena struktur rumah menggunakan penopang dan tidak seluruhnya bertumpu langsung pada tanah.

"Bangunan ini juga relatif tahan gempa karena strukturnya tak langsung napak ke tanah tapi pakai penopang. Alhamdulillah selama ini aman," katanya.

Rumah itu pun akhirnya menjadi lebih dari sekadar tempat tinggal.

Ia adalah sebuah percobaan yang berhasil menjadi rumah-dibangun dari tanah yang diinjak setiap hari, tetapi membawa gagasan tentang bagaimana manusia bisa kembali lebih dekat dengan alam.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama