Saat Jatigede Surut, Rezeki Warga Justru Mengalir

 

Bangunan Yang Sempat Terendam Kembali Terlihat di Waduk Jatigede 


SUMEDANG- Hari cukup cerah dan matahari mulai meninggi di atas Waduk Jatigede. Air yang menyusut membuat sejumlah bagian daratan kembali terlihat. Tanah basah, retakan, hingga bekas jalan dan bangunan yang dulu terendam mulai muncul ke permukaan.

Bagi sebagian orang, pemandangan itu mungkin mengingatkan pada kehidupan sebelum kawasan tersebut terendam air waduk.

Namun bagi warga yang tinggal di sekitar Waduk Jatigede, surutnya air juga membawa kesempatan. Daratan yang kembali muncul bisa dimanfaatkan untuk bertani. Tepian waduk pun menjadi tempat mencari tutut dan ikan.

Salah satunya dilakukan warga di kawasan Cibungur, Kecamatan Darmaraja. Saat air menyusut, lahan yang sebelumnya terendam kembali bisa digunakan untuk bercocok tanam.

Padi dan mentimun menjadi pilihan warga untuk ditanam sebelum lahan tersebut kembali terendam.

Acim (69) termasuk warga yang memanfaatkan kesempatan itu. Selain mengolah lahan, ia tetap berjualan eceran untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Lumayan untuk menambah modal dagang. Daripada nganggur, tanahnya sedang surut, saya manfaatkan untuk menanam padi dan mentimun sambil berjualan eceran,” kata Acim.

Menurutnya, permukaan Waduk Jatigede sudah menyusut sekitar tiga bulan terakhir. Kali ini, air turun cukup jauh sehingga lahan yang terbuka juga cukup luas.

Acim tidak tahu sampai kapan lahan tersebut bisa digunakan. Karena itu, selama masih ada kesempatan, ia memilih menanaminya.

“Kalau hanya mengandalkan dagang, ya begitu saja. Tapi kalau punya padi atau mentimun sendiri, setidaknya tidak perlu membeli untuk kebutuhan,” ujarnya.

Baginya, lahan tersebut merupakan kesempatan tambahan. Meski sifatnya sementara, hasilnya tetap bisa membantu kebutuhan sehari-hari.

Selain itu, bukan hanya lahan pertanian yang dimanfaatkan. Tepian waduk yang surut juga menjadi tempat warga mencari tutut.

Amun Lasim (51), misalnya, datang bersama keluarganya untuk mencari tutut. Hasilnya kemudian dibawa ke Sumedang Kota untuk dibagikan kepada masyarakat dan sebagian dimasak sendiri.

“Ini lagi mencari tutut, dibawa ke Sumedang Kota, dibagi-bagi ke masyarakat dan dimasak sendiri, tidak dijual,” kata Amun.

Ia mengaku tidak setiap hari mencari tutut. Biasanya, kegiatan itu dilakukan sekitar satu kali dalam sepekan.

Selain mendapatkan hasil, mencari tutut juga menjadi cara Amun menghabiskan waktu bersama keluarga.

Hari itu, mereka berhasil mengumpulkan sekitar 10 kilogram tutut.

“Saya tidak tiap hari, hanya satu minggu sekali. Sekalian refreshing. Alhamdulillah, surutnya Waduk Jatigede membawa berkah karena bisa dimanfaatkan untuk mencari tutut,” ujarnya.

Di sekitar lokasi yang sama, warga lainnya juga memanfaatkan waduk untuk mencari ikan.

Seperti halnya Adi Usep (44) mengatakan hasil tangkapan ikan bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam sekali turun, hasil tangkapan seorang pencari ikan biasanya sekitar 10 hingga 15 kilogram.

Jika kondisi sedang bagus, hasilnya bisa lebih banyak, bahkan mencapai sekitar 40 kilogram. Namun, hasil tangkapan tetap bergantung pada kondisi air dan musim.

Aktivitas warga di waduk juga ikut menggerakkan pekerjaan lain. Salah satunya pembuatan perahu.

Endan (55), seorang pengrajin perahu, mengaku mulai kembali mendapatkan banyak pesanan ketika air Waduk Jatigede surut.

“Dulunya memang sepi. Sekarang mulai ramai. Kalau sudah mulai surut, biasanya aktivitas masyarakat juga mulai ramai,” kata Endan.

Menurutnya, saat air surut, semakin banyak warga yang kembali beraktivitas di waduk. Ada yang memancing, memasang jaring, hingga menangkap ikan. Kondisi itu ikut membuat permintaan perahu meningkat.

Saat musim hujan, Endan biasanya hanya mampu membuat sekitar empat perahu dalam sebulan. Namun ketika musim kemarau dan aktivitas di waduk meningkat, produksinya bisa mencapai sekitar tujuh perahu per bulan.

Untuk satu perahu, pengerjaan membutuhkan waktu sekitar satu pekan, tergantung ukuran dan tingkat kesulitannya.

Dalam setahun, Endan memperkirakan bisa membuat sekitar 50 perahu berdasarkan pesanan.

Harganya bervariasi. Perahu ukuran tertentu dibanderol sekitar Rp4 juta hingga Rp5 juta. Sementara perahu dengan ukuran lebih besar bisa mencapai Rp7 juta hingga Rp12 juta.

Selain membuat baru, Endan juga menerima jasa perbaikan dan perombakan perahu.

Tidak semua perahu yang rusak harus diganti baru. Beberapa bagian masih bisa diperbaiki sehingga pemilik dapat kembali menggunakannya.

Pesanan pun tidak hanya datang dari warga sekitar Jatigede. Endan juga pernah menerima pesanan dari daerah lain, termasuk Cianjur.


Surutnya Waduk Jatigede ternyata membawa cerita berbeda bagi setiap warga. Ada yang kembali menanam padi dan mentimun. Ada yang mencari tutut. Ada pula yang turun ke waduk untuk menangkap ikan.

Di sisi lain, pengrajin seperti Endan ikut merasakan dampaknya karena kebutuhan perahu meningkat ketika warga kembali ramai beraktivitas di perairan.

Namun, semua itu tidak berlangsung sepanjang tahun. Ketika musim hujan datang dan permukaan air kembali naik, lahan pertanian yang sekarang terbuka bisa kembali terendam. Aktivitas mencari tutut dan menangkap ikan pun akan menyesuaikan kondisi waduk.

Berdasarkan informasi, elevasi normal Waduk Jatigede berada sekitar 260 meter di atas permukaan laut. Sementara elevasi waduk tercatat sekitar 242 meter di atas permukaan laut pada Sabtu (5/9) pukul 16.00 WIB kemarin.

Kondisi surut diperkirakan masih berlangsung hingga musim hujan tiba. Selama air belum kembali naik, warga memilih memanfaatkan apa yang tersedia.

Bagi mereka, Waduk Jatigede bukan hanya soal air yang naik atau turun. Perubahan permukaan air juga ikut mengubah cara warga mencari penghasilan.

Saat air surut, tanah bisa kembali ditanami. Tepian waduk bisa menjadi tempat mencari tutut. Perairan yang terbuka menjadi ruang untuk menangkap ikan.

Sementara suara palu dan alat kerja dari tempat Endan membuat perahu terus terdengar, menandakan aktivitas di sekitar waduk kembali bergerak.

Air Jatigede memang sedang surut. Tetapi bagi warga di sekitarnya, kondisi itu justru membuka peluang untuk mendapatkan rezeki dari berbagai cara.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama