Warga Cipatay Keluhkan Debu, Kebisingan, dan Getaran dari Aktivitas Pengolahan Kapur

 

Pantauan Udara Wilayah Cipatat Yang Penuh Dengan Debu


BANDUNG BARAT- Aktivitas industri pengolahan kapur di wilayah Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, dikeluhkan warga karena dinilai menimbulkan pencemaran udara, kebisingan, hingga getaran yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Salah seorang warga Kampung Pamucatan, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, rabu (22/07/2026), Jajang Hidayat (64), mengaku sudah bertahun-tahun merasakan dampak dari operasional perusahaan yang lokasinya berada tepat di belakang rumahnya.

Menurut Jajang, debu dari aktivitas pengolahan kapur hampir setiap hari masuk ke dalam rumah meski pintu dan jendela sudah ditutup rapat. Kondisi itu membuat dirinya dan keluarga harus lebih sering membersihkan perabotan rumah.

"Debunya tetap masuk walaupun rumah sudah ditutup. Hampir setiap hari kami bersih-bersih karena lantai, meja, kursi, televisi sampai ruang makan cepat sekali kotor," ujarnya.

Tak hanya mengotori rumah, Jajang menyebut debu tersebut diduga berdampak pada kondisi kendaraan miliknya. Ia mengaku cat mobil lebih cepat kusam bahkan mengalami kerusakan sejak perusahaan menggunakan proses pembakaran berbahan bakar batu bara.

"Saya sudah mengalami dua kali. Mobil yang usianya masih beberapa tahun catnya cepat rusak. Dulu tidak seperti ini," katanya.

Keluhan warga tidak berhenti pada persoalan debu. Aktivitas perusahaan yang berlangsung selama 24 jam juga menimbulkan suara bising, terutama pada malam hari, sehingga mengganggu waktu istirahat warga sekitar.

Selain itu, getaran dari aktivitas produksi juga kerap dirasakan. Jajang mengatakan getaran tersebut cukup kuat hingga terlihat dari permukaan air di dalam gelas yang bergetar.

"Kalau malam suara lebih terdengar. Getarannya juga terasa, sampai air di gelas kelihatan bergoyang," ungkapnya.

Jajang menyebut dampak tersebut tidak hanya dirasakan keluarganya. Sedikitnya lima RW yang berada di tiga desa, yakni Desa Ciburuy dan Desa Padalarang di Kecamatan Padalarang serta Desa Gunungmasigit di Kecamatan Cipatat, ikut terdampak.

Meski demikian, warga menegaskan tidak menolak keberadaan industri pengolahan kapur. Mereka hanya berharap perusahaan melakukan pembenahan sistem operasional agar emisi debu, kebisingan, dan getaran dapat ditekan sehingga aktivitas industri tetap berjalan tanpa mengurangi kenyamanan masyarakat.

"Kami tidak ingin perusahaan ditutup. Yang kami harapkan hanya ada solusi agar debu, kebisingan, dan getaran bisa diminimalkan sehingga warga bisa hidup lebih nyaman," ujar Jajang.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama