Serunya Perang 1,5 Ton Tomat di Lembang, Tradisi Protes Petani yang Kini Jadi Festival Rakyat

 

Keseruan Perang Tomat Yang Berlangsung di Kampung Cikareumbi Desa Cikidang Kecamatan Lembang Kbb

BANDUNG BARAT- Ribuan orang memadati sepanjang Jalan Cikareumbi, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat (26/6/2026). Sejak pagi mereka rela menunggu dimulainya Rempug Tarung Adu Tomat, festival perang tomat yang akhirnya kembali digelar setelah enam tahun vakum.

Suasana penuh semangat langsung terasa. Warga, wisatawan, hingga para fotografer berkumpul untuk menyaksikan tradisi unik tersebut. Mereka sudah tak sabar ikut saling melempar tomat busuk yang telah disiapkan panitia.

Yang paling mencuri perhatian adalah kemunculan 14 "prajurit tomat", Mereka mengenakan rompi pelindung, topeng bambu yang menutupi wajah, membawa perisai di tangan kiri dan alat pemukul di tangan kanan.

Sebelum perang dimulai, tujuh penari tradisional mengiringi para prajurit dengan membawa tampah. Topeng dan perisai yang akan digunakan para prajurit diserahkan secara simbolis melalui tarian pembuka, menambah kental nuansa budaya dalam festival tersebut.

Begitu aba-aba diberikan, satu per satu tomat mulai melayang dari dua kubu. Tak lama kemudian, panitia membagikan keranjang-keranjang berisi tomat busuk kepada peserta lain hingga perang tomat berlangsung semakin seru.

Tomat beterbangan ke segala arah, menghantam kepala, wajah, hingga badan peserta. Namun tak ada kemarahan. Semua larut dalam tawa dan kegembiraan. Tak ada lawan ataupun kawan, siapa pun bisa menjadi sasaran lemparan.

"Alhamdulillah setelah enam tahun vakum, terakhir digelar tahun 2019, sekarang bisa kembali lagi. Antusias masyarakat luar biasa," ujar Ketua Pelaksana Rempug Tarung Adu Tomat, Acep Unan.

Menurut Acep, festival ini sempat berhenti akibat pandemi COVID-19. Karena itu, kembalinya perang tomat tahun ini terasa jauh lebih meriah.

"Rasanya memang berbeda. Mungkin karena sudah lama tidak ada, jadi masyarakat benar-benar menunggu acara ini," katanya.

Sebanyak 1,5 ton tomat busuk digunakan dalam festival tersebut. Tomat yang dipakai memang merupakan hasil panen yang sudah tidak layak jual, bukan tomat berkualitas baik.

"Yang dipakai memang tomat busuk. Dalam setiap panen pasti ada tomat yang rusak, dan hari ini kami siapkan sekitar 1,5 ton," ucap Acep.

Di balik kemeriahannya, perang tomat ternyata menyimpan cerita panjang. Tradisi ini pertama kali digelar pada 2011 sebagai bentuk protes para petani terhadap anjloknya harga tomat.

Saat itu harga tomat hanya sekitar Rp500 per kilogram, jauh dari biaya produksi yang harus dikeluarkan petani.

"Dulu harga tomat cuma Rp500 per kilogram, padahal biaya merawat satu pohon saja sekitar Rp5.000. Itu yang membuat para petani kecewa," kata Acep.

Gagasan perang tomat berasal dari seniman dan budayawan Bandung Barat, Mas Nanu Muda atau Abah Nanu. Daripada tomat busuk dibuang percuma, ia mengubahnya menjadi sebuah pertunjukan budaya yang kini menjadi tradisi tahunan.

"Daripada tomat yang harganya murah itu dibuang begitu saja, akhirnya dijadikan bagian dari tradisi. Jadi bukan sekadar bentuk protes, tetapi juga menjadi hiburan rakyat yang sarat nilai budaya," ujarnya.

Selain menjadi simbol protes, perang tomat juga dimaknai sebagai cara membuang hal-hal buruk dalam diri. Tomat busuk melambangkan sifat negatif yang harus disingkirkan agar kehidupan menjadi lebih baik.

"Tomat busuk itu simbol keburukan dalam diri kita yang harus dibuang jauh-jauh. Sementara topeng yang dipakai menggambarkan dua sisi yang dimiliki setiap manusia," kata Acep.

Menariknya, tomat yang sudah hancur usai festival tidak dibiarkan berserakan. Panitia mengumpulkannya kembali untuk diolah menjadi pupuk kompos.

"Jadi tomat busuk yang menjadi simbol keburukan itu nantinya diolah lagi menjadi pupuk. Dari situ akan tumbuh tanaman tomat baru yang lebih baik," ujar Acep.

Warga sekitar pun ikut hadir dalam kegiatan ini, mereka berdatangan dari desa tetangga untuk menyaksikan keseruan perang tomat yang baru di laksanakan kembali. Seperti halnya, Windi (35), dirinya sengaja datang bersama keluarga untuk melihat keseruan perang tomat ini.

"Iya sengaja datang sama keluarga anak dan suami, pengen lihat langsung keseruannya, dan memang cukup seru melihat perang tomat ini, meski baru pertama kali menyaksikan secara langsung", ungkap Windi.

Windi juga berharap kegiatan tradisi ini dapat terus di laksanakan setiap tahunnya, dan dapat lebih berkembang dan lebih seru lagi.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama