Kemarau Panjang Ancam Cimahi Selatan, Krisis Air Bersih Kian Nyata Akibat Eksploitasi Air Tanah

 

Ilustrasi Banyuan Air Bersih Yang di Berikan Untuk Membantu Warga Tangani lesulitan Air Bersih

CIMAHI- Ancaman kekeringan dan krisis air bersih kembali menghantui wilayah Kota Cimahi seiring datangnya musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang hingga akhir 2026. Kondisi ini paling dirasakan warga di kawasan Cimahi Selatan yang setiap tahun menjadi daerah paling rentan terdampak kekeringan.

Sejumlah wilayah seperti Kelurahan Utama, Melong, dan Leuwigajah tercatat sebagai daerah yang kerap mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air bersih saat musim kemarau. Bahkan, di luar musim kemarau pun sebagian warga masih harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kepala Laboratorium Geodesi ITB, Heri Andreas, Selasa (16/6/2026) mengatakan, persoalan ketersediaan air di kawasan Cimahi Selatan bukan hanya dipicu faktor cuaca, tetapi juga akibat eksploitasi air tanah yang berlangsung selama bertahun-tahun.

“Di luar musim kemarau saja masyarakat di Cimahi Selatan sudah mengalami kesulitan air. Saat kemarau tiba, kebutuhan air bersih biasanya harus dibantu melalui distribusi tangki air,” ujar Heri.

Menurutnya, penggunaan air tanah secara berlebihan oleh sektor industri maupun masyarakat telah menyebabkan penurunan muka air tanah yang cukup signifikan. Berdasarkan kajian Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGL) Badan Geologi, penurunan muka air tanah di kawasan Bandung Raya telah mencapai 60 hingga 100 meter.

Heri menilai kondisi tersebut menjadi peringatan serius bagi keberlangsungan sumber daya air di masa depan. Jika tidak dikendalikan, krisis air bersih diperkirakan akan semakin parah pada tahun 2050.

“Eksploitasi air tanah yang terus berlangsung dapat merusak lapisan akuifer. Saat ini lapisan akuifer dangkal pada kedalaman 50 hingga 100 meter mulai mengalami penurunan kapasitas. Jika terus dieksploitasi, pengeboran akan semakin dalam dan berpotensi merusak cadangan air yang tersisa,” jelasnya.

Ia menambahkan, eksploitasi air tanah tidak hanya dilakukan oleh industri, tetapi juga terjadi di lingkungan permukiman melalui penggunaan sumur artesis yang memasok kebutuhan air warga.

Di sisi lain, tingginya kebutuhan air bersih membuat berbagai pihak, termasuk perusahaan daerah air minum, turut memanfaatkan sumber air tanah. Kondisi tersebut semakin memperbesar tekanan terhadap cadangan air bawah tanah yang tersedia.

“Indikatornya sudah terlihat dari terus menurunnya muka air tanah. Ini menjadi sinyal bahwa pengelolaan dan pemanfaatan air tanah harus segera dilakukan secara lebih bijak dan berkelanjutan,” katanya.

Dengan prediksi musim kemarau yang lebih panjang, masyarakat diimbau mulai menghemat penggunaan air serta meningkatkan upaya konservasi sumber daya air guna mengurangi risiko krisis air bersih di masa mendatang.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama