Industri Tekstil Cimahi Terancam, Pemadaman Listrik Bergilir Picu Risiko Gagal Produksi dan Kerugian Miliaran Rupiah

 

Ribuan Karyawan Tengah Melakukan Proses Produksi


KOTA CIMAHI- Pemadaman listrik bergilir yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir menjadi ancaman serius bagi sejumlah perusahaan tekstil di Kota Cimahi. Industri yang selama ini menjadi salah satu sektor penopang ekonomi daerah kini dihadapkan pada risiko terganggunya proses produksi hingga potensi kerugian bernilai miliaran rupiah.

Kekhawatiran itu dirasakan sejumlah pabrik tekstil yang beroperasi di kawasan industri Kota Cimahi, di antaranya di Jalan Mahar Martanegara dan kawasan Jalan Industri Cibaligo. Dalam sepekan terakhir, pemadaman listrik dilaporkan telah terjadi dua kali dan berdampak langsung terhadap aktivitas produksi.

Bagi industri tekstil, pasokan listrik yang stabil merupakan kebutuhan utama. Hampir seluruh proses produksi, mulai dari pengoperasian mesin pemintalan, penenunan, pencelupan hingga finishing produk, sangat bergantung pada ketersediaan energi listrik. Ketika aliran listrik tiba-tiba terputus, proses produksi yang sedang berjalan otomatis berhenti dan berpotensi menyebabkan produk menjadi cacat atau tidak memenuhi standar kualitas.

Selain menurunkan kualitas hasil produksi, pemadaman listrik juga dapat menyebabkan gagal produksi, terutama ketika bahan baku dan mesin sudah disiapkan untuk memenuhi target pesanan pelanggan.

HRD PT Trisulatex Cimahi, Yud Fahmiadi, pada sabtu (20/06/2026), mengaku pihaknya merasa cemas dengan kondisi tersebut. Menurutnya, pemadaman listrik yang tidak sesuai dengan jadwal pemberitahuan membuat perusahaan kesulitan melakukan langkah antisipasi.

“Pemadaman listrik bergilir ini dapat mengganggu rencana produksi kami dan mengancam terjadinya gagal produksi. Apalagi jika pemadaman tidak sesuai dengan jadwal yang telah diinformasikan sebelumnya,” ujar Yud.

Ia menjelaskan, perusahaan sebenarnya selalu berupaya menyesuaikan jadwal kerja berdasarkan informasi pemadaman yang diterima. Namun ketika pemadaman terjadi di luar jadwal atau berlangsung lebih lama dari perkiraan, maka seluruh perencanaan produksi menjadi terganggu.

Menurut Yud, keberadaan generator set (genset) yang dimiliki perusahaan tidak dapat sepenuhnya menjadi solusi. Genset yang tersedia hanya mampu menopang kebutuhan listrik untuk operasional kantor dan sistem pendukung lainnya.

Sementara itu, kebutuhan listrik untuk mengoperasikan mesin-mesin produksi memiliki daya yang sangat besar sehingga tidak dapat ditanggung oleh genset cadangan yang ada.

“Genset hanya untuk kebutuhan daya rendah dan operasional kantor. Untuk menjalankan mesin produksi dibutuhkan daya yang jauh lebih besar dan tetap bergantung pada pasokan listrik utama dari PLN,” katanya.

Kondisi tersebut membuat perusahaan berada dalam posisi sulit. Ketika listrik padam di tengah proses produksi, bahan yang sedang diproses berisiko rusak dan harus diulang dari awal. Selain menambah biaya produksi, keterlambatan penyelesaian pesanan juga dapat berdampak pada hubungan bisnis dengan pelanggan.

Pelaku industri menilai gangguan pasokan listrik yang terus berulang dapat menurunkan produktivitas dan daya saing sektor manufaktur di tengah tantangan ekonomi yang masih dihadapi industri tekstil nasional.

Jika situasi ini terus berlanjut, perusahaan tidak hanya berpotensi mengalami penurunan produksi, tetapi juga kerugian finansial yang nilainya dapat mencapai miliaran rupiah akibat terganggunya proses operasional dan tidak tercapainya target produksi.

Para pelaku usaha berharap PT PLN dapat meningkatkan keandalan pasokan listrik, khususnya di kawasan industri yang menjadi pusat aktivitas manufaktur. Selain itu, perusahaan juga meminta adanya kepastian jadwal pemadaman agar industri dapat melakukan penyesuaian operasional dan meminimalkan risiko kerugian.

Dengan tingginya ketergantungan industri tekstil terhadap energi listrik, stabilitas pasokan menjadi faktor krusial yang menentukan kelancaran produksi. Tanpa dukungan listrik yang andal, ancaman gagal produksi dan kerugian besar akan terus membayangi industri tekstil di Kota Cimahi.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama