19 Tahun Bandung Barat, Ase Rukmantara Ingatkan Makna 'Hudang Tandang Berjuang

 

Sosok Ase Rukmantara pencipta Karatagan dan Himne Bandung Barat

BANDUNG BARAT- Di tengah kemeriahan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-19 Kabupaten Bandung Barat (KBB), sosok Ase Rukmantara, Seorang pria berusia 72 tahun asal Kecamatan Cipatat itu menjadi salah satu tamu istimewa dalam perayaan yang digelar Jumat (19/6/2026). Ase bukanlah pejabat atau tokoh politik. Ia adalah pencipta Karatagan dan Himne Bandung Barat, dua karya yang selama 19 tahun terakhir selalu berkumandang dalam berbagai acara resmi Pemerintah Kabupaten Bandung Barat.

Kini, Ase memilih menjalani masa senjanya di pelosok Bandung Barat. Jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, ia menikmati kehidupan sebagai seorang seniman Sunda yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya sebagai guru dan budayawan.

Karatagan Bandung Barat yang diciptakannya bukan sekadar lagu seremonial. Di balik setiap baitnya tersimpan semangat perjuangan masyarakat saat memperjuangkan lahirnya Kabupaten Bandung Barat yang resmi berdiri pada tahun 2007 setelah memisahkan diri dari Kabupaten Bandung.

Bagi Ase, momentum HUT ke-19 menjadi pengingat bagi para pemimpin daerah untuk tetap memegang amanah dan mengutamakan kesejahteraan masyarakat.

"Apa yang disampaikan Pak Bupati itu benar, bahwa di usia ke-19 tahun ini pemerintah harus amanah dan terus meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujar Ase.

Ia menjelaskan, lirik pembuka Karatagan Bandung Barat, Bandung Barat Hudang Tandang Berjuang, memiliki makna mendalam. Hudang berarti bangun, tandang berarti berani melangkah, dan berjuang berarti bekerja keras demi kemajuan daerah.

Sementara lirik Ngawangun Negeri Jembar Waluya menggambarkan harapan agar Bandung Barat menjadi daerah yang luas kemajuannya, makmur masyarakatnya, serta sehat dan selamat kehidupan warganya.

"Lagu itu sebenarnya menjadi pengingat bagi pemimpin Bandung Barat. Sebagai pemimpin, mereka harus memikirkan rakyatnya. Saya sebagai warga asli Bandung Barat berharap masyarakat semakin diperhatikan dan semakin sejahtera," katanya.

Menurut Ase, semangat perjuangan yang dahulu mengiringi lahirnya Kabupaten Bandung Barat tidak boleh luntur. Semangat itu harus terus hidup dalam setiap kebijakan dan pembangunan yang dilakukan pemerintah.

"Di liriknya ada Hudang Tandang Berjuang, artinya bangkit, berani, dan berjuang. Karena dulu masyarakat Bandung Barat berjuang bersama untuk mendirikan kabupaten ini," ungkapnya.

Tak hanya berbicara soal pembangunan, Ase juga menyisipkan pesan penting mengenai pendidikan dan nilai-nilai keagamaan melalui bait Sugih Pangarti Nyantri Nyakola.

Baginya, masyarakat Bandung Barat harus kaya akan pengetahuan, berpendidikan, dan memiliki akhlak yang baik. Konsep "nyantri" yang dimaksud bukan sekadar belajar di pesantren, melainkan memiliki pemahaman agama yang kuat sesuai keyakinan masing-masing.

"Rakyatnya harus terus memoles diri, harus berpendidikan supaya bijaksana. Kemudian harus nyantri agar kehidupannya berkah. Bukan memonopoli agama tertentu, karena semua agama mengajarkan kebaikan dan nilai-nilai luhur," tuturnya.

Di usia Bandung Barat yang ke-19 tahun, pesan sederhana dari sang pencipta Karatagan itu tetap relevan: pembangunan tidak hanya soal infrastruktur dan angka pertumbuhan, tetapi juga tentang kesejahteraan rakyat, pendidikan, dan pembentukan karakter masyarakat yang berbudaya serta berakhlak mulia.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama