
Observasi Kepada Pasien Telan Jarum Pentul
Korban diketahui bernama Pramita Himbar Dinata, siswi kelas 3 SMP. Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu pagi (28/1/2026) di sebuah pondok pesantren yang berada di Kecamatan Situraja, Sumedang.
Menurut penuturan Pramita, kejadian bermula ketika ia menyimpan jarum pentul di bibir sambil mengobrol dengan temannya.
“Waktu mau pasang hijab, jarumnya saya simpan di bibir. Lagi ngobrol sama teman, tiba-tiba jarumnya masuk ke mulut dan ketelan,” ujar Pramita saat ditemui di RS Umar Wirahadikusumah Sumedang.
Pramita sempat panik dan berusaha mengeluarkan jarum tersebut menggunakan tangannya. Namun upaya itu justru membuat jarum semakin masuk ke dalam saluran pencernaan.
“Saya sempat coba ambil pakai tangan, tapi malah makin ke dalam. Setelah itu membuat tak nyaman,” tambahnya.
Pihak pesantren kemudian membawa Pramita ke puskesmas dan klinik terdekat. Namun karena keterbatasan peralatan medis, jarum tidak dapat dikeluarkan. Pramita akhirnya dirujuk ke Instalasi Gawat Darurat RSUD Umar Wirahadikusumah Sumedang pada Rabu sore.
Humas RSUD Umar Wirahadikusumah Sumedang, Iman Budiman, mengatakan pihak rumah sakit langsung melakukan observasi dan pemeriksaan radiologi.
“Setelah dilakukan observasi dan pemeriksaan rontgen, posisi jarum diketahui sudah berada di saluran pencernaan bagian bawah,” kata Iman.
Menurutnya, kondisi pasien relatif stabil sehingga tidak diperlukan tindakan operasi.
“Pasien kami berikan obat pencahar untuk membantu memperlancar pencernaan, dengan harapan jarum bisa keluar secara alami saat buang air besar,” jelasnya.
Sambil menunggu jarum keluar, Pramita diperbolehkan pulang ke rumahnya di Dusun Nyalindung, Desa Padanaan, Kecamatan Paseh, pada Kamis sore (29/1/2026), dengan catatan tetap dalam pemantauan.
“Kami juga menyarankan pasien untuk memperbanyak konsumsi buah dan serat agar proses pengeluaran jarum bisa lebih mudah,” tambah Iman.
Pihak rumah sakit sekaligus mengimbau masyarakat, khususnya para pengguna hijab, agar tidak lagi menyimpan jarum pentul di bibir karena berisiko tinggi tertelan dan membahayakan keselamatan.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting akan bahaya kebiasaan sepele yang kerap dianggap aman, namun dapat berujung pada kondisi darurat medis.
Posting Komentar